Dikira Ada Keributan, Suara “Dar Der Dor” di Sekretariat PWI Mojokerto Ternyata Rebutan Balon Berisi Uang
MOJOKERTO (Awalan.id) – Suara “dar der dor” terdengar berkali-kali dari Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto Raya, Jalan Pekayon Kelurahan Kranggan, Kota Mojokerto, Senin (7/9/2026). Suara letusan yang muncul berulang itu sempat membuat suasana di sekretariat PWI Mojokerto Raya terdengar seperti sedang terjadi sesuatu yang serius.
Apalagi, malam itu tampak sejumlah anggota kepolisian berada di lokasi. Mereka adalah Kapolsek Pacet, AKP M.K. Umam, Kasi Humas Polres Mojokerto, Iptu Toni Wicaksono dan Kasi Humas Polres Mojokerto Kota, Iptu Suhartanto. Namun tak ada penggerebekan ataupun kejadian genting di balik suara tersebut.
Suara “Dar der dor” justru menjadi bagian dari kemeriahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar PWI Mojokerto Raya. Suara letusan itu berasal dari balon yang sengaja disiapkan panitia. Bukan sekadar balon biasa, di dalamnya terdapat uang tunai dengan nominal mulai Rp2 ribu hingga Rp50 ribu.
Begitu balon diletuskan, suasana pun langsung pecah. Para anggota PWI Mojokerto Raya berebut mencari uang yang tersembunyi di dalam balon. Tawa dan sorak-sorai mewarnai acara yang sejak awal dikemas secara sederhana dan penuh kekeluargaan tersebut. Rebutan balon berisi uang tersebut setelah “Gema Sholawat”.
Agenda rutin PWI Mojokerto Raya dalam rangka memperingati Maulid Nabi tahun 2026 ini menghadirkan Ustadz Hamsah atau yang dikenal dengan sebutan Brandal Qori. Sementara lantunan sholawat dan musik diisi oleh Al-Banjari Sabillah, grup musik islami yang aktif mengisi perayaan hari besar Islam di Jawa Timur.
Ketua Panitia Maulid Nabi, M Zainudin mengucapkan terima kasih kepada tamu yang hadir dan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan tersebut dapat berjalan lancarkegiatan tersebut memang tidak dirancang sebagai acara besar. Pihaknya memilih menggelar peringatan secara sederhana dengan mengutamakan kebersamaan antaranggota.

“Terima kasih kepada seluruh anggota PWI dan para tamu yang hadir. Acara ini memang kami gelar secara sederhana dan tidak banyak mengundang tamu. Yang terpenting adalah kebersamaan dan bagaimana kita bersama-sama memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PWI Mojokerto Raya, Aminuddin Ilham mengatakan, peringatan Maulid Nabi memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para wartawan untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah SAW sekaligus berusaha menerapkan akhlak beliau dalam menjalankan kehidupan maupun profesi jurnalistik.
“Kita berharap dengan memperingati Maulid Nabi ini mendapatkan syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yang lebih penting, kita bisa meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan keagamaan ini menjadi bagian dari upaya kita untuk membangun kebersamaan sekaligus memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual di lingkungan PWI,” katanya.
Kegiatan keagamaan menjadi salah satu bagian yang terus didorong selama kepengurusannya di PWI Mojokerto Raya. Para anggota tidak hanya diajak menjalankan tugas jurnalistik, tetapi juga diberikan ruang untuk memperkuat kebersamaan melalui kegiatan keagamaan, seperti tadarus Al-Qur’an selama Ramadan, Idul Adha dan Maulid Nabi.
Sementara itu, pesan penting juga disampaikan Ustadz Hamsah dalam tausiyahnya. Ia mengajak wartawan yang tergabung dalam PWI Mojokerto Raya menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menjalankan tugas. Menurutnya, Rasulullah SAW dikenal memiliki sifat jujur, amanah, menyampaikan kebenaran dan cerdas.

“Rasulullah mengajarkan kepada kita pentingnya kejujuran. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan profesi wartawan yang setiap hari berhadapan dengan informasi dan kepentingan publik. Bagi seorang wartawan, kejujuran merupakan pondasi utama. Berita harus disampaikan berdasarkan fakta, bukan berdasarkan kepentingan pribadi ataupun kelompok,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan wartawan agar tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum teruji kebenarannya. Terlebih di era digital, sebuah informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Karena itu, wartawan dituntut tidak sekadar cepat, tetapi juga akurat.
“Kalau Rasulullah dikenal sebagai manusia yang amanah, maka wartawan juga harus menjaga amanah ketika mendapatkan informasi. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya langsung disebarkan karena bisa merugikan orang lain. Jangan hanya mengejar cepat, tetapi lupakan ketepatan,” ungkapnya.
Sebab, lanjutnya, satu berita yang tidak benar bisa melukai seseorang, sementara satu berita yang benar dan bermanfaat bisa menjadi amal. Ustadz Hamsah berharap nilai-nilai Maulid Nabi tidak hanya berhenti dalam sebuah kegiatan seremonial. Semangat tersebut harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk ketika wartawan menjalankan tugas jurnalistik.
“Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, mari kita buktikan dengan meneladani akhlaknya. Jujur dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tugas, santun dalam berkomunikasi dan selalu berpihak pada kebenaran,” pungkasnya.
Di balik keseruan kegiatan tersebut, terselip pesan sederhana : peringatan Maulid Nabi dapat menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, membangun kebersamaan, sekaligus mengingat kembali pentingnya akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan dan menjalankan profesi sebagai insan pers. [Mia/Red]





