Ekskavasi Situs Sentonorejo Ungkap Jejak Permukiman Elit Era Majapahit
MOJOKERTO (Awalan.id) – Ekskavasi penyelamatan yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI di Situs Sentonorejo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mengungkap gambaran kawasan permukiman yang diduga menjadi hunian kalangan elit pada masa Kerajaan Majapahit.
Sejumlah struktur bangunan dan lantai kuno yang ditemukan diyakini menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi tata ruang kawasan tersebut. Penggalian yang dimulai sejak 24 Juni 2026 berhasil menemukan berbagai struktur arkeologi, mulai dari susunan bata, batu kali, batu bulat, lantai bata, hingga struktur memanjang yang masih diteliti fungsinya.
“Kalau melihat pola dan karakteristiknya, ini merupakan situs permukiman. Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah struktur memanjang yang diduga berfungsi sebagai pembatas kawasan atau dinding bangunan,” ujar Ketua Tim Ekskavasi Situs Sentonorejo, Muhammad Ichwan, Senin (6/7/2026).
Namun, tim arkeolog masih melakukan kajian untuk memastikan fungsi sebenarnya dari struktur tersebut. Selain itu, ekskavasi juga menemukan susunan batu kali yang diduga merupakan lantai bangunan di tiga titik penggalian. Menurut Ichwan, karakter temuan tersebut memiliki kemiripan dengan lantai batu kali yang sebelumnya ditemukan di Situs Segaran.
“Kami menemukan lantai dari susunan batu kali di tiga titik. Apakah benar merupakan lantai masih akan kami teliti lebih lanjut, namun temuan serupa pernah ditemukan di Situs Segaran. Temuan terbaru itu semakin memperkuat dugaan bahwa Situs Sentonorejo merupakan kawasan penting pada masa Majapahit,” katanya.
Selama ini, kawasan tersebut memang dikenal para arkeolog memiliki karakteristik berbeda dibandingkan situs-situs lain di Trowulan. Selain bukti arkeologis, dugaan tersebut juga diperkuat oleh keberadaan nama-nama wilayah yang masih bertahan hingga sekarang.

Terdapat Dusun Kedaton, Sentonorejo, Plintahan, hingga kawasan yang dalam Kitab Bujangga Manik disebut sebagai Bubat. Keterkaitan nama-nama desa ini mengindikasikan bahwa kawasan Sentonorejo memiliki posisi strategis dalam tata ruang ibu kota Majapahit.
“Dari sisi struktur juga terlihat adanya lantai segi enam yang menjadi ciri istimewa. Di kawasan ini juga terdapat Situs Kedaton, Sumur Upas, dan situs umpak yang saling berkorelasi. Berdasarkan data-data tersebut, kami menduga kawasan ini merupakan permukiman elit,” ungkapnya.
Berbeda dengan Situs Sumur Upas yang denah bangunannya telah terlihat jelas, indikasi permukiman di Sentonorejo baru mulai tersusun melalui temuan lantai bata, lantai batu kali, dan struktur memanjang yang diduga menjadi pembatas antarbangunan dalam satu kompleks. Ekskavasi tahun ini merupakan penggalian perdana yang dilakukan BPKW XI di Situs Sentonorejo.
Tim membuka tiga titik penggalian, yakni di sebelah barat Situs Umpak, sebelah barat Situs Lantai Segi Enam, serta satu titik di seberang area ekskavasi utama. Ketiga lokasi tersebut diperkirakan merupakan satu kesatuan kawasan. Di lokasi lain, penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa juga menemukan struktur bangunan beserta lantai segi enam yang tersambung dengan temuan BPKW XI.
Rangkaian temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa Sentonorejo merupakan kompleks permukiman penting pada masa kejayaan Majapahit, bahkan diduga menjadi kawasan hunian kalangan bangsawan atau elite kerajaan.
Ekskavasi akan berlangsung hingga 8 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama BPKW XI dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sebanyak 33 orang terlibat dalam kegiatan itu, terdiri atas 18 warga setempat sebagai tenaga penggali dan 15 tenaga teknis. [Mia/Red]
Berita Terkait



