Header Menu Detik Style

Harga Cabai dan Sayuran di Mojokerto Merangkak Naik Jelang Idul Adha dan Waisak

Caption ; Penjual sayur mayur di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.

MOJOKERTO (Awalan.id) – Menjelang sejumlah hari besar keagamaan nasional di bulan Mei 2026, harga sejumlah kebutuhan dapur di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, mulai mengalami kenaikan. Komoditas yang mengalami lonjakan di antaranya cabai, bawang merah, hingga beberapa jenis sayuran hijau.

Kondisi tersebut dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, dan Hari Raya Waisak 2570 BE yang berlangsung sepanjang bulan Mei ini.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Tanjung Anyar, Midha (49), mengatakan harga bahan pokok terutama cabai mengalami perubahan hampir setiap hari. Pedagang yang telah berjualan selama 25 tahun itu menyebut lonjakan harga paling terasa terjadi pada cabai dan sayuran.

“Cabai sekarang bisa sampai Rp70 ribu per kilogram, harganya naik turun tiap hari,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Tak hanya cabai, harga sawi juga melonjak tajam. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu per kilogram, kini mencapai Rp22 ribu per kilogram. Bahkan, stok sawi di lapaknya saat ini kosong karena pasokan terbatas. Selain itu, harga brokoli naik dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.

“Sekarang sawi kosong, biasanya saya hanya menyediakan kalau ada pesanan,” katanya.

Bawang merah turut mengalami kenaikan dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara cabai hijau naik menjadi Rp55 ribu dari sebelumnya Rp50 ribu per kilogram, dan cabai besar dijual Rp50 ribu per kilogram. Meski sebagian komoditas naik, beberapa bahan lain masih terpantau stabil.

“Seperti kentang dan wortel masih stabil. Kentang di harga Rp15 ribu per kilogram dan wortel Rp12.500 per kilogram,” tuturnya.

Kenaikan harga bahan dapur tersebut turut berdampak pada pelaku usaha kuliner. Eno (53), seorang penjual soto yang rutin berbelanja di Pasar Tanjung Anyar, mengaku harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan di tengah naiknya harga bahan baku.

“Kami tidak bisa menaikkan harga makanan karena persaingan ketat. Jadi terpaksa mengurangi porsi. Bumbu tetap sama, kualitas rasa tidak dikurangi,” ungkapnya. [Mia/Red]

Tags :

Menarik Lainnya