SURABAYA (Awalan.id) – Perum BULOG Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Timur mencatat realisasi penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) yang signifikan selama masa panen raya. Hingga 15 April 2026, serapan gabah di wilayah ini telah menembus lebih dari 500.000 ton setara beras.
Angka tersebut menjadi indikator positif dalam menjaga stabilitas pangan nasional, mengingat Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi beras terbesar di Indonesia.
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu A menyatakan bahwa percepatan penyerapan dilakukan sebagai upaya memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Kebijakan ini merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri.
“Saat ini sebagian besar wilayah Jawa Timur masih memasuki masa panen raya. Kami hadir untuk menyerap gabah petani secara maksimal dengan harga sesuai ketentuan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram,” ujarnya di Surabaya, Rabu (15/4/2026).
Ia menegaskan, penyerapan tersebut bertujuan menjaga harga gabah agar tetap stabil di tingkat petani dan tidak jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan serapan beras nasional sebesar 4 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3 juta ton.

Khusus untuk Jawa Timur, target serapan ditetapkan sebesar 883.912 ton. Dengan capaian yang telah melampaui 500.000 ton, BULOG Jatim optimistis target tersebut dapat tercapai, mengingat potensi panen di sejumlah daerah masih berlangsung.
Tingginya serapan turut mendorong peningkatan stok beras.
Saat ini, stok yang dikelola BULOG Jatim mencapai 1,174 juta ton setara beras, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran hingga 14 bulan ke depan. Untuk mengantisipasi keterbatasan ruang penyimpanan, BULOG Jatim melakukan penambahan kapasitas gudang melalui skema kerja sama sewa pergudangan.
Langkah ini dilakukan agar seluruh hasil panen petani dapat tersimpan dengan baik dan kualitasnya tetap terjaga. Selain beras, BULOG Jatim juga melakukan penyerapan komoditas jagung pipil kering. Hingga pertengahan April 2026, realisasi penyerapan jagung mencapai 48.132 ton atau sekitar 48,1 persen dari target 100.000 ton.
Dalam pengadaan jagung, BULOG mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026, dengan harga pembelian Rp6.400 per kilogram untuk kadar air 14 persen di gudang, serta Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18–20 persen di tingkat petani.
Langgeng menambahkan, keberhasilan penyerapan tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, dinas pertanian, penyuluh lapangan, pemerintah daerah, hingga mitra kerja di lapangan.
“Dengan sinergi yang kuat, ketahanan pangan semakin terjaga dan kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan,” pungkasnya. [Al/Red]






