BPBD Mojokerto Ingatkan Karhutla Mengintai, Kebakaran Lahan Hampir Terjadi Setiap Hari

MOJOKERTO (Awalan.id) – Musim kemarau mulai meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Mojokerto. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi cuaca panas yang disertai angin kencang.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, kebakaran lahan saat ini hampir terjadi setiap hari di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto. “Di musim kemarau seperti ini rawan terjadi kebakaran hutan dan kebakaran lahan,” ungkapnya, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Rinaldi, kondisi lahan yang mengering akibat minimnya curah hujan menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko kebakaran. Suhu udara yang tinggi dan hembusan angin juga membuat api lebih mudah menjalar sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Di Kabupaten Mojokerto, lanjut dia, hampir setiap hari setidaknya terdapat satu kejadian kebakaran lahan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas apabila terjadi di kawasan dengan vegetasi atau rerumputan kering.
Karena itu, BPBD meminta masyarakat menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api, termasuk pembukaan lahan dengan cara dibakar. Rinaldi juga mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kawasan pegunungan maupun hutan agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran.
“Untuk yang sedang naik gunung atau masuk hutan, mohon untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sampah atau membakar ranting-ranting kering. Insya Allah kalau kita jaga alam, alam akan jaga kita,” tegasnya.

Selain karhutla, BPBD Kabupaten Mojokerto turut mengingatkan masyarakat terhadap potensi kebakaran permukiman selama musim kemarau. Kelalaian dalam menggunakan api maupun peralatan listrik dapat menjadi pemicu kebakaran.
Masyarakat diminta tidak membakar sampah, daun kering, maupun sisa jerami secara sembarangan. Warga juga diingatkan tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran. Bagi perokok, Rinaldi meminta agar puntung rokok dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang.
Pemeriksaan instalasi listrik rumah secara berkala juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi korsleting. Kewaspadaan juga diperlukan saat menggunakan sumber api terbuka seperti obat nyamuk bakar, lilin dan kompor. Peralatan tersebut hendaknya tidak ditempatkan berdekatan dengan benda-benda yang mudah terbakar.
“Musim kemarau telah tiba. Cuaca panas dan angin kencang membuat api sangat cepat menyebar. Mari kita jaga keselamatan lingkungan kita bersama,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026. Kondisi kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan masyarakat menjadi penting, terutama dalam mencegah munculnya titik api dari aktivitas sehari-hari maupun kegiatan di kawasan hutan dan lahan terbuka. [Mia/Red]






