MOJOKERTO (Awalan.id) — Libur semester panjang pada 2011 menjadi titik balik bagi Fika Andriyawati dalam memulai usaha kue kering rumahan. Lulusan Kimia Universitas Negeri Surabaya itu memanfaatkan momen Ramadan dan Lebaran untuk mencoba peruntungan bisnis bersama ibu dan kakaknya di rumah orang tua mereka di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Berbekal resep yang dipelajari secara otodidak melalui media sosial, Fika mulai memproduksi kue kering dan menitipkannya ke beberapa toko di sekitar tempat tinggalnya. Meski penjualan melalui toko belum menunjukkan hasil signifikan, pesanan langsung dari konsumen justru mulai berdatangan.
Peluang tersebut kemudian dimanfaatkan Fika dengan mengembangkan sistem penjualan melalui reseller sejak 2013. Strategi ini terbukti mampu memperluas pasar sekaligus menjaga stabilitas penjualan hingga saat ini.
Setelah menikah dengan Arief Sulistya pada 2019, Fika merenovasi bekas toko jamu milik orang tuanya menjadi tempat produksi yang lebih representatif. Dari sana, lahirlah usaha Avika Cake and Cookies yang kini terus berkembang.
Produksi Puluhan Varian
Saat ini, Avika Cake and Cookies memiliki 23 varian produk. Sebanyak 14 varian diproduksi secara mandiri, mulai dari nastar, kastengel, lidah kucing, sagu keju, putri salju, hingga semprit dahlia. Selain itu, Fika juga menjalin kolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Pacet untuk menghadirkan camilan ringan seperti basreng, pastel mini, dan kacang telur.
Dari seluruh varian yang tersedia, nastar menjadi produk unggulan yang paling diminati pelanggan. Untuk menjaga kualitas rasa, Fika bahkan mengambil nanas langsung dari petani dalam dua tahun terakhir agar selai yang digunakan tetap terjaga keasliannya.

Penjualan Stabil Saat Ramadan
Jaringan reseller yang kini berjumlah sekitar 60 orang turut membantu mendongkrak penjualan. Mereka tersebar di sejumlah wilayah Mojokerto seperti Trawas, Pungging, Ngoro, hingga Mojosari, bahkan menjangkau Sidoarjo, Jombang, dan Surabaya.
Memasuki Ramadan tahun ini, penjualan mulai menunjukkan peningkatan. Sekitar 200 toples kue kering telah terjual pada awal Ramadan, sementara pesanan pre-order mencapai 800 toples dan diperkirakan terus bertambah hingga mendekati Lebaran.
Pada musim Ramadan–Lebaran tahun lalu, total penjualan mencapai 2.000 hingga 3.000 toples. Untuk memenuhi lonjakan permintaan, Fika dibantu tujuh hingga delapan pekerja dari kalangan keluarga dan tetangga sekitar.
Tak hanya melayani pasar lokal, produk kue keringnya juga pernah dikirim hingga luar pulau, dengan tujuan terjauh ke Medan. Biasanya, pemesanan ditutup lima hari sebelum Lebaran karena produksi difokuskan pada penyelesaian pesanan yang sudah masuk.
Fika meyakini konsistensi menjadi kunci utama dalam menjalankan usaha. Dari dapur rumahan di lereng Pacet, bisnis yang berawal dari coba-coba saat libur kuliah itu kini berkembang menjadi jaringan usaha dengan puluhan reseller dan ribuan pelanggan setiap tahunnya. [Mia]






