Angka Kesakitan Warga Mojokerto Tahun 2025 Naik, Kelompok Pengeluaran Atas Justru Tertinggi
MOJOKERTO (Awalan.id)– Tren kesehatan masyarakat Kabupaten Mojokerto menunjukkan perubahan pada 2025. Setelah sempat menurun dalam tiga tahun berturut-turut, angka kesakitan penduduk kembali meningkat. Berdasarkan hasil Susenas Maret 2025, angka kesakitan warga Kabupaten Mojokerto tercatat mencapai 14,08 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny mengatakan, angka tersebut menggambarkan penduduk yang mengalami keluhan kesehatan yang dirasakan cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. “Artinya, dari setiap 1.000 penduduk Kabupaten Mojokerto, terdapat sekitar 141 penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan yang dirasakan berat dan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pada periode 2022 hingga 2024, angka kesakitan di Kabupaten Mojokerto justru menunjukkan tren penurunan. Namun, pada 2025 terjadi pembalikan tren dengan peningkatan angka kesakitan sebesar 3,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, meningkatnya angka kesakitan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola hidup hingga kondisi lingkungan dan akses terhadap layanan kesehatan.
Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta kurang tidur, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Selain itu, kondisi lingkungan, kualitas air dan sanitasi, hingga persoalan stres dan kesehatan mental juga dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
“Peningkatan angka kesakitan tidak hanya berkaitan dengan satu faktor. Perilaku hidup, lingkungan, kondisi psikologis, serta akses dan kesadaran terhadap pelayanan kesehatan juga dapat berpengaruh. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, penduduk perempuan tercatat memiliki angka kesakitan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Selisihnya mencapai 0,77 persen,” katanya.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain stres dan gangguan kecemasan, pola makan yang kurang sehat, serta kurangnya waktu istirahat. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dari ketersediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga dari pola hidup dan kondisi sosial masyarakat.
Temuan lain yang menarik terlihat ketika angka kesakitan dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran per kapita. Pada 2025, penduduk yang masuk kelompok 20 persen dengan pengeluaran tertinggi justru mencatat angka kesakitan paling tinggi, yakni 16,21 persen. Artinya, tingkat pengeluaran yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Data tersebut dapat menjadi indikasi bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penentu kondisi kesehatan. Pola konsumsi, aktivitas fisik, waktu istirahat, serta perilaku hidup sehari-hari juga perlu menjadi perhatian. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Untuk menekan angka kesakitan, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga menjadi salah satu langkah penting. Sejumlah perilaku yang perlu diperhatikan antara lain memastikan persalinan ditolong tenaga kesehatan, memberikan ASI eksklusif, rutin menimbang bayi dan balita, mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih.
Menggunakan air bersih serta jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, mengonsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik setiap hari, serta tidak merokok di dalam rumah. Penerapan kebiasaan tersebut dinilai penting karena pencegahan penyakit tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah sakit, tetapi juga dimulai dari lingkungan rumah dan kebiasaan sehari-hari.
Kenaikan angka kesakitan Kabupaten Mojokerto pada 2025 dengan demikian menjadi sinyal penting bagi masyarakat maupun pemerintah. Di tengah upaya memperluas akses pelayanan kesehatan, perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan derajat kesehatan penduduk. [Mia/Red]


