Header Menu Detik Style

Sejarah Semarang Terekam Lewat Kartu Pos di Pameran Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos

Caption : Pengunjung menikmati Pameran Temporer, Semarang Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos.

Semarang (Awalan.id) – Jejak perjalanan sejarah Kota Semarang sejak akhir abad ke-19 terekam apik melalui bingkai kartu pos. Media korespondensi yang populer pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda ini kini menjadi jendela alternatif untuk mempelajari sejarah Ibu Kota Jawa Tengah melalui pendekatan visual.

Fenomena kartu pos bergambar tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi pada masanya, tetapi juga mendorong demokratisasi fotografi. Jika sebelumnya fotografi bersifat eksklusif, kehadiran kartu pos menjadikannya lebih mudah diakses dan dinikmati publik.

Dari situlah berbagai sudut Kota Semarang terdokumentasi dan menjadi saksi perkembangan kota dari masa ke masa. Melalui pameran bertajuk Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos yang digelar di Gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama Semarang, masyarakat, khususnya generasi muda diajak mengenal dan memahami sejarah kota melalui koleksi kartu pos lawas.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengatakan pameran tersebut merupakan upaya pelestarian dan pendokumentasian sejarah sekaligus penguatan nilai budaya melalui literasi visual. “Pameran ini tidak hanya menjadi ruang temu intelektual, tetapi juga ruang dialog,” ujarnya.

Fadli Zon menyebut jika pameran tersebut menjadi ruang dialog antara memori kolektif dan realitas kekinian, serta wadah refleksi atas sejarah, identitas, dan perjalanan budaya Kota Semarang. Menurutnya, kartu pos dengan gambar dan teks yang menyertainya mampu menjembatani masa lalu dan masa kini.

Kartu pos juga dinilai bisa menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh generasi penerus bangsa. Selain memiliki nilai historis, kartu pos juga dinilai berpotensi menjadi instrumen diplomasi budaya dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Melalui kegiatan ini, kita diajak melihat kembali Kota Semarang sebagai lanskap sejarah yang kaya nilai, makna, dan pelajaran, sekaligus memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat terhadap kota ini. Semarang memiliki warisan budaya dan tradisi yang luar biasa,” katanya.

Fadli Zon mencontohkan seperti Dugderan, Arakarakan Sam Poo Tay Djien, dan Gambang Semarang. Kota Semarang pun menjadi saksi berbagai peristiwa penting perjuangan bangsa, serta memiliki banyak bangunan dan kawasan bersejarah seperti Lawang Sewu, Gedung Monod, dan Klenteng Sam Poo Kong.

“Indonesia sejatinya adalah bangsa mega-diversity. Pelestarian budaya dan sejarah melalui literasi visual seperti kartu pos adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan secara nyata,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menilai pameran kartu pos memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat dalam menikmati sejarah kota. Melalui visual kartu pos, pengunjung dapat membayangkan kondisi Semarang di masa lalu dan membandingkannya dengan perkembangan saat ini.

“Dari kartu pos ini kita bisa menduga seperti apa Semarang dulu dan bagaimana perubahannya sekarang. Ini akan menumbuhkan rasa cinta yang lebih kuat terhadap Kota Semarang. Kawasan Kota Lama merupakan etalase pariwisata sekaligus pintu masuk wisata sejarah Kota Semarang,” tuturnya.

Pameran dan buku kartu pos tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan serta pecinta filateli untuk berkunjung. Agustina juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam merawat aset sejarah, termasuk rencana revitalisasi gedung pertemuan bekas Gedung Sarekat Islam.

“Gedung bersejarah harus kita hidupkan kembali supaya bisa digunakan untuk aktivitas budaya warga. Jika memori-memori lama digali kembali, sejarah Kota Semarang akan semakin kaya dan nantinya Gedung Sarekat Islam agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan budaya masyarakat,” harapnya.

Pameran Temporer Semarang, Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos telah berlangsung pada 19–26 Desember 2025. Kegiatan ini diisi dengan diskusi buku, diskusi foto tempo dulu dan kini, serta napak tilas kawasan Kota Lama Semarang.

Pameran tersebut merupakan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kota Semarang, Pengurus Pusat Perkumpulan Penggemar Filatelis Indonesia, Fadli Zon Library, Jejak Kartu Pos, dan Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang. [Red]

Tags :

Menarik Lainnya