MOJOKERTO (Awalan.id) – Seluruh sebelas kabupaten/kota penyusun Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur tercatat mengalami inflasi pada Desember 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,86 persen, disusul Kabupaten Gresik 0,85 persen dan Kota Madiun 0,81 persen.
Secara agregat, Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi sebesar 0,76 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 0,64 persen. Di Kabupaten Mojokerto, tekanan harga tercermin dari Indeks Fluktuasi Harga (IFH) yang pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,92 persen.
Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga komoditas secara umum dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, mengatakan bahwa kenaikan IFH pada Desember 2025 dipengaruhi oleh sejumlah kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan harga.

“Kelompok komoditas yang memberikan andil kenaikan harga antara lain makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; penyediaan makanan dan minuman atau restoran; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, tujuh kelompok pengeluaran lainnya tercatat stagnan atau tidak memberikan andil kenaikan maupun penurunan harga. Kelompok tersebut meliputi pakaian dan alas kaki, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga, kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga dan budaya, serta pendidikan.
Bambang menjelaskan, secara kumulatif laju IFH Kabupaten Mojokerto dari Januari hingga Desember 2025 tercatat sebesar 2,82 persen. Angka yang sama juga tercatat pada laju IFH year on year (YoY), yakni periode Desember 2024 hingga Desember 2025.
Adapun komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan harga rata-rata dibandingkan bulan sebelumnya antara lain cabai rawit, bensin, bawang merah, es campur, daun bawang, tomat sayur, wortel, emas perhiasan, tahu mentah, dan solar. Sebaliknya, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga.

Seperti kelapa, daging ayam ras, udang basah, cabai merah, gula pasir, brokoli, nanas, rempela hati ayam, serta ikan gurame. Menurut Bambang, kenaikan IFH pada Desember 2025 terutama dipicu oleh meningkatnya harga cabai rawit akibat terganggunya pasokan selama musim hujan.
“Produksi cabai rawit terdampak kondisi cuaca, sementara permintaan masyarakat relatif tetap bahkan cenderung meningkat. Hal ini diperparah dengan keterlambatan pasokan dan panjangnya rantai distribusi komoditas hortikultura yang bersifat volatil,” jelasnya.
Di sisi lain, Bambang menambahkan bahwa penurunan harga kelapa turut membantu menahan tekanan inflasi di Kabupaten Mojokerto. Meningkatnya pasokan seiring masuknya masa panen, didukung kelancaran distribusi dan permintaan yang stabil, membuat harga kelapa cenderung turun.
“Kondisi ini cukup membantu meredam volatilitas harga secara keseluruhan, sehingga tekanan IFH tidak meningkat lebih tinggi,” pungkasnya. [Mia]






