Header Menu Detik Style

Inflasi Jatim Maret 2026 Terkendali, IFH Kabupaten Mojokerto Naik Tipis Dipicu Harga BBM

Caption : Ilustrasi.

MOJOKERTO (Awalan.id) — Perkembangan harga di Provinsi Jawa Timur sepanjang Maret 2026 menunjukkan tren inflasi yang relatif terkendali. Secara agregat, inflasi Jatim tercatat sebesar 0,39 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,41 persen.

Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak sebelas kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami inflasi. Kabupaten Gresik mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,98 persen, disusul Sumenep 0,89 persen, Kota Probolinggo 0,69 persen dan Kota Surabaya yang mencatat inflasi paling rendah sebesar 0,13 persen.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi menjelaskan bahwa Indeks Fluktuasi Harga (IFH) Kabupaten Mojokerto pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,09 persen. “Angka ini menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga secara umum,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Meskipun masih dalam batas yang relatif terkendali. Ia memaparkan, kenaikan harga di Mojokerto dipengaruhi oleh enam kelompok pengeluaran, yakni makanan, minuman dan tembakau, pakaian dan alas kaki, perumahan dan energi, perlengkapan rumah tangga, kesehatan serta transportasi.

Sementara satu kelompok, yaitu perawatan pribadi dan jasa lainnya, justru mengalami penurunan harga. Adapun empat kelompok lainnya tercatat relatif stabil. Secara kumulatif, IFH Kabupaten Mojokerto pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 0,10 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year), IFH tercatat sebesar 1,11 persen.

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan bahwa kenaikan harga pada Maret 2026 didorong oleh sejumlah komoditas utama, di antaranya bensin, cabai rawit, tahu mentah, daging ayam ras, telur ayam ras, susu kental manis, cabai merah, minyak goreng, serta tomat sayur.

“Kenaikan IFH terutama dipicu oleh naiknya harga BBM jenis Pertamax akibat penyesuaian harga oleh Pertamina sebagai BBM non-subsidi. Penyesuaian harga tersebut tidak lepas dari faktor global, seperti kenaikan harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berdampak pada biaya impor dan produksi,” katanya.

Selain itu, biaya distribusi dan kondisi pasar juga turut memengaruhi kenaikan harga di daerah. Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga, seperti emas perhiasan, air kemasan, ayam hidup, bawang merah, wortel, hingga sejumlah komoditas hortikultura dan sandang.

Bambang menambahkan, penurunan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor penahan laju kenaikan IFH. Hal ini dipengaruhi oleh melemahnya harga emas global seiring penguatan dolar AS serta menurunnya minat investasi masyarakat terhadap emas.

“Secara umum, kondisi ini menunjukkan dinamika harga yang masih cukup terkendali, meskipun tetap perlu diwaspadai terutama pada komoditas energi dan pangan yang sensitif terhadap perubahan global,” pungkasnya. [Mia/Red]

Tags :

Menarik Lainnya