MOJOKERTO (Awalan.id) — Pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Pos Observasi Bulan (POB) Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, tidak membuahkan hasil. Hilal dilaporkan tidak terlihat karena posisinya masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Rukyatul hilal dilakukan oleh tim Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto di lokasi yang berada sekitar 70 meter di atas permukaan laut. Pengamatan melibatkan sekitar 10 orang perukyat dengan menggunakan teleskop, teodolit, serta alat bantu lainnya untuk memastikan akurasi arah pengamatan.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mojokerto, Muttakin, menyampaikan bahwa tidak satu pun pengamat berhasil melihat hilal. “Tidak ada satu pun perukyat yang melihat hilal. Kami menunggu hasil sidang isbat dari Kementerian Agama RI sebagai penetapan resmi awal Ramadan,” ujarnya.
Meski kondisi cuaca sempat cerah berawan hingga mendung, faktor cuaca disebut bukan penyebab utama kegagalan pengamatan.

Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto, Syamsudin, menjelaskan bahwa secara astronomis posisi hilal memang belum memenuhi kriteria visibilitas. Tinggi hilal minimal yang disyaratkan untuk dapat terlihat adalah 3 derajat di atas ufuk, sementara saat pengamatan tinggi hilal di Mojokerto tercatat minus 2 derajat 00 menit 41 detik.
“Ijtima baru terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, sehingga saat magrib umur hilal masih minus 1 jam 6 menit. Artinya secara posisi memang belum memungkinkan untuk dirukyat,” jelasnya.
Hasil rukyatul hilal dari Mojokerto kemudian dilaporkan ke Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur dan diteruskan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan tahun ini. Dengan tidak terlihatnya hilal di lokasi tersebut, penetapan awal Ramadan 1447 H kini menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang digelar di tingkat nasional. [Mia]






