Mojokerto (Awalan.id) – Penghujung tahun 2025 menjadi momentum istimewa bagi dunia seni rupa di Mojokerto. Di tengah hiruk pikuk aktivitas pusat perbelanjaan, atrium mal satu-satunya di Kota Mojokerto disulap menjadi ruang perjumpaan seni lewat pameran lukisan tunggal karya wartawan senior, Diak Eko Purwoto.
Pameran bertajuk Gen Art ini digelar mulai 17 hingga 31 Desember 2025. Tak banyak yang menyangka, ide pameran tunggal tersebut lahir dari sebuah pertemuan yang sama sekali tak direncanakan. Sekitar sebulan lalu, mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto itu bertemu dengan direktur salah satu surat kabar di Mojokerto.
Saat menghadiri undangan pelukis senior Priyok Dinasti di kawasan Trowulan. Obrolan ringan di sela acara justru berujung pada gagasan besar: menggelar pameran tunggal. “Waktu itu stok lukisan saya kebetulan sudah banyak dan layak dipamerkan,” katanya, Kamis (18/12/2025).
Selain dikenal sebagai wartawan salah satu televisi nasional yang bertugas di Mojokerto, Diak merupakan pelukis otodidak beraliran realisme. Melukis sudah menjadi hobinya sejak kecil, namun sempat terhenti karena kesibukan liputan. Titik balik itu terjadi sekitar dua tahun lalu.
Saat putri bungsunya mendapat tugas menggambar dari sekolah. Diak menyediakan kanvas dan mulai mengajarinya. Dari situlah, jiwa seninya kembali menyala. Sejak aktif kembali melukis, puluhan karya berhasil ia hasilkan. Bahkan, sekitar separuh lukisan tersebut telah berpindah tangan ke para kolektor.
Tak sedikit pecinta seni yang memesan lukisan kepadanya, memanfaatkan kepekaan Diak dalam menangkap realitas melalui gaya realisme yang lugas dan mudah dinikmati. Bagi Diak, melukis tak jauh berbeda dengan menulis berita. Keduanya menuntut kejelian memilih objek, sudut pandang terbaik, serta momentum yang tepat.
Tak heran, banyak karyanya terinspirasi dari keseharian sebagai jurnalis mulai dari keindahan alam, kebudayaan, hingga peristiwa sosial. Salah satu lukisan yang mencuri perhatian adalah karya yang menggambarkan barisan anggota Polri berjaga saat aksi demonstrasi.

Lukisan tersebut merepresentasikan beratnya tugas aparat dalam menjaga keamanan dan kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk menyelesaikannya, Diak membutuhkan waktu empat hari.
“Melukis dan menulis itu sama. Melukis bagi saya sebuah kenikmatan. Aliran saya realis karena semua orang bisa menikmati tanpa harus dijelaskan,” tuturnya.
Diak mengaku tak mematok tenggat waktu ketat dalam mengerjakan pesanan lukisan. Ia lebih mengandalkan mood dan proses. Bahkan, ia sering meninggalkan satu lukisan yang hampir selesai demi mengerjakan karya lain. Kebiasaan itu sempat membuatnya kewalahan ketika tawaran pameran datang, karena banyak lukisan yang belum rampung.
Hingga kini, sekitar 60 lukisan telah ia selesaikan, dengan 30 di antaranya sudah dikoleksi berbagai kalangan, mulai dari rekan seprofesi, anggota dewan, pejabat pemerintah, hingga pengusaha. Lukisan-lukisan tersebut dibanderol dengan harga mulai Rp2,5 juta hingga Rp10 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
Melalui pameran tunggal perdananya ini, Diak berharap dapat turut menghidupkan kembali geliat seni rupa di Mojokerto dan memberikan warna baru dari kalangan seniman senior. Ia juga ingin menunjukkan bahwa Mojokerto bukan hanya dikenal sebagai daerah wisata, tetapi juga memiliki denyut seni rupa yang patut diperhitungkan.
“Pameran ini bukan sekadar ruang memamerkan karya, tetapi menjadi wadah pertemuan antara seniman dan masyarakat dalam dialog budaya yang hangat dan inspiratif,” katanya.
Diak pun berharap kehadirannya dapat menjadi inspirasi bahwa profesi jurnalis dan seniman dapat berjalan beriringa menyuarakan realitas, baik lewat kata maupun lewat goresan kuas. [Mia]






