Berebut Hasil Bumi di Pohon Kersen, Warga Sooko Rawat Tradisi Maulid yang Sarat Makna

MOJOKERTO (Awalan.id) – Suasana meriah mewarnai jalan depan Masjid Darussalam, Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ratusan warga berkumpul dan saling berebut berbagai barang yang digantungkan di dua pohon kersen dalam tradisi keresan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dua pohon kersen yang berdiri di tengah jalan dusun menjadi pusat perhatian. Dahan-dahannya dipenuhi aneka hasil bumi, pakaian, hingga kerajinan dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari hasil sumbangan masyarakat setempat. Begitu tradisi dimulai, warga langsung berkerumun untuk mengambil barang-barang yang tergantung di atas pohon.

Sebagian bahkan rela memanjat menggunakan tangga demi mendapatkan barang yang diincarnya. Seperti yang dilakukan Adip (40), salah satu warga Gedang Klutuk, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, mengaku sengaja datang untuk mengikuti tradisi tahunan tersebut.

“Naik tangga, sudah pernah naik. Saya ambil kemudian saya lempar ke bawah, supaya yang tidak bisa naik juga bisa dapat. Berbagi dengan warga lain yang ada di bawah. Dapat macam-macam, ada sarung, baju, daster,” ungkapnya,” ujarnya, Selasa (25/8/2026)

Sebelum tradisi dimulai, Masjid Darussalam terlebih dahulu menggelar pengajian untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Setelah rangkaian pengajian selesai, warga kemudian mengikuti tradisi keresan yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Panitia Tradisi Keresan, Saiful Alam mengatakan, kegiatan tersebut merupakan warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat Dusun Mengelo. “Tradisi keresan dalam rangka memperingati Maulid Nabi sejak saya kecil, kita sebagai generasi penerus melanjutkan saja tradisi dari nenek moyang kita,” jelasnya.

Ia menjelaskan, barang-barang yang digantungkan di pohon merupakan hasil bumi dan kerajinan masyarakat Dusun Mengelo. Seluruhnya dikumpulkan dari sumbangan warga. Tradisi keresan memiliki makna lebih dari sekadar hiburan. Banyaknya buah dan daun pada pohon kersen menjadi simbol harapan agar rezeki masyarakat juga terus tumbuh dan melimpah.

“Yang digantung itu hasil bumi, hasil kerajinan masyarakat Dusun Mengelo. Seluruhnya hasil sumbangan dari masyarakat. Filosofinya pohon keres itu buah dan daunnya banyak sehingga diharapkan rezeki masyarakat Dusun Mengelo banyak dan melimpah seperti pohon keres,” katanya.

Persiapan tradisi tersebut bahkan dilakukan jauh-jauh hari. Warga mulai mengumpulkan iuran setiap pekan sejak sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan. Sementara pohon yang digunakan untuk menggantung berbagai barang berasal dari lingkungan sekitar. Saiful berharap tradisi keresan tetap lestari dan semakin dikenal generasi muda.

“Untuk pelaksanaan tahun depan, masyarakat bahkan telah menyiapkan pohon yang dinilai lebih kokoh dengan dahan lebih lebat. Harapannya tradisi ini tetap ada dan bisa diteruskan generasi berikutnya,” tegasnya.

Bagi masyarakat Dusun Mengelo, keresan menjadi salah satu cara untuk merawat warisan leluhur sekaligus mempererat kebersamaan. Di tengah riuh warga berebut hasil bumi dan berbagai barang, terselip doa agar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW membawa keberkahan dan rezeki yang melimpah bagi seluruh masyarakat. [Mia/Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *