MOJOKERTO (Awalan.id) — Upaya pemantauan hilal penentu awal 1 Syawal 1447 Hijriah di Kabupaten Mojokerto belum membuahkan hasil. Hilal tidak terlihat saat rukyatul hilal yang digelar di Pusat Observasi Bulan (POB) Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Pemantauan dilakukan oleh tim perukyat dari Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto yang berjumlah sekitar 15 orang. Mereka melakukan pengamatan dari lokasi yang berada di ketinggian kurang lebih 50 meter di atas permukaan laut dengan dukungan berbagai peralatan, seperti teleskop, gawang lokasi, serta teodolit.
Meski kondisi cuaca pada sore hari terpantau cukup cerah, hilal tetap tidak berhasil dirukyat. Hasil pengamatan menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga belum memenuhi syarat visibilitas.

Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto, Syamsudin, menyampaikan bahwa ketinggian hilal saat pengamatan masih jauh dari batas minimal yang ditentukan. “Secara perhitungan, elongasi hilal sekitar 5 derajat 33 menit 30 detik. Namun tinggi hilalnya hanya sekitar 1 derajat 19 menit 28 detik,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Sementara batas minimal visibilitas hilal berada di kisaran 3 derajat, sehingga hilal tidak dapat terlihat. Berdasarkan hasil tersebut, pihaknya memprakirakan Hari Raya Idulfitri berpotensi jatuh pada, Sabtu (21/3/2026). Kendati demikian, keputusan resmi penetapan awal 1 Syawal 1447 Hijriah tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama RI.
“Hasil rukyatul hilal dari Kabupaten Mojokerto selanjutnya akan dilaporkan ke Kantor Kemenag Mojokerto, Pengadilan Agama setempat, serta Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur untuk kemudian diteruskan ke tingkat pusat sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan awal bulan Syawal,” tegasnya. [Mia]






