JAKARTA (Awalan.id) – Kabar duka datang dari keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia. Istri mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso, Meriyati Roeslani atau Meri Hoegeng dikabarkan meninggal dunia di usia 100 tahun, Selasa (3/2/2026).
Meri Hoegeng dikenal sebagai sosok pendamping setia Hoegeng Imam Santoso, Kapolri yang menjabat pada periode 1968–1971 dan dikenang sebagai figur polisi yang sederhana, jujur, serta berintegritas tinggi. Selama mendampingi sang suami, Meri dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan jauh dari kehidupan mewah, sejalan dengan prinsip hidup Hoegeng.
Semasa hidupnya, Meri Hoegeng kerap menjadi teladan dalam kesederhanaan dan keteguhan mendukung karier serta pengabdian suaminya kepada bangsa dan negara. Nilai-nilai tersebut menjadikan pasangan Hoegeng dan Meri sering dijadikan inspirasi, khususnya di lingkungan Polri.

Kepergian Meri Hoegeng meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta masyarakat yang mengenal sosoknya. Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai kalangan, terutama keluarga besar Polri yang menilai pasangan Hoegeng dan Meri sebagai simbol keteladanan.
Hingga saat ini, pihak keluarga belum banyak menyampaikan keterangan resmi terkait prosesi pemakaman. Namun sejumlah tokoh dan kerabat telah menyampaikan doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. [Red]
Teladan Meriyati Roeslani :
1. Mengutamakan integritas keluarga di atas kepentingan pribadi.
2. Berani mengambil keputusan pahit demi menghindari konflik kepentingan.
3. Tetap bersahaja meski berada di puncak kekuasaan.
4. Menjaga keseimbangan hidup melalui hobi dan kesenian.
5. Menjadi pendukung moral utama bagi pasangan dalam menjalankan tugas negara.






