MOJOKERTO (Awalan.id) – Jalan hidup tak selalu lurus seperti garis lapangan sepak bola. Hal itulah yang dialami Fajar Cahyo Wibowo (34), mantan pemain PS Mojokerto Putra (PSMP), yang kini sukses beralih profesi menjadi importir burung kenari dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.
Warga Dusun Wonokerto, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini, sebelumnya dikenal sebagai pesepak bola yang malang melintang di sejumlah klub. Karier sepak bolanya dimulai sejak memperkuat skuad PON Jawa Timur 2012, Persekab pada 2008–2017, PSMP pada 2018, hingga Arema Indonesia pada 2019.
Namun, seiring berjalannya waktu dan usia, suami dari Siti Fatimah (30) ini memilih mengambil jalur berbeda. Kecintaannya pada burung kenari yang sudah tumbuh sejak kecil, menjadi pintu menuju dunia usaha yang kini membesarkan namanya di kalangan penghobi burung.
“Dulu cita-cita saya memang ingin jadi pemain bola, main di timnas atau minimal Liga 1. Tapi usia di sepak bola ada batasnya. Kalau jalannya sudah tidak memungkinkan, jangan putus asa, kita bisa ambil bidang lain,” ujar Fajar, saat ditemui di kediamannya, Selasa (27/1/2026).

Dari Kenari Lokal hingga Impor Eropa dan Timur Tengah
Awalnya, Fajar hanya menjual kenari lokal jenis Another Filial (AF) dan FI. Namun, sejak 2022–2023, ia mulai merambah kenari impor. Hingga kini, usahanya semakin berkembang dengan mendatangkan burung dari berbagai negara seperti Iran, Italia, hingga Turki.
Beberapa jenis kenari yang ia pasarkan antara lain Rasmi asal Iran, Scotch Fancy (SF) dari Italia, Yorkshire (YS) dari Turki, hingga kenari lokal dan AF. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung jenis dan kualitas.
Kenari Rasmi dibanderol mulai Rp5 juta hingga Rp12 juta per ekor, Scotch Fancy Rp1,6 juta sampai Rp2,8 juta, Yorkshire Rp4,5 juta hingga Rp7 juta. Sementara kenari lokal dijual mulai Rp100 ribu sampai Rp300 ribu, dan jenis AF berkisar Rp300 ribu hingga Rp700 ribu.
“Sekarang ambil impor dalam jumlah besar. Satu box isi 50 ekor, kemarin ambil dua box. Rata-rata sebulan satu box bisa habis. Pembeli datang dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Jawa Barat dan Bali,” ungkapnya.

Omzet Ratusan Juta per Bulan
Dengan volume penjualan rata-rata tiga hingga empat ekor per hari, Fajar mampu meraup omzet sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan. Menurutnya, daya tarik utama kenari Rasmi terletak pada panjang ekornya. Semakin panjang ekornya maka harganya semakin mahal.
“Semakin panjang ekornya, semakin mahal. Itu murni dari gen induknya, tidak ada suplemen atau cara khusus untuk memanjangkan,” jelasnya.
Perawatan Ketat dan Disiplin
Kesuksesan usaha ini tak lepas dari perawatan ketat yang diterapkan. Fajar menggunakan sistem indoor tanpa penjemuran, dengan pengaturan lampu selama 12–13 jam per hari. Kelembapan ruangan juga dijaga ketat menggunakan alat penyedot udara, mengingat iklim tropis Indonesia yang rawan membuat burung sakit.
“Makan cukup sekali sehari di pagi hari, air minum dan kandang wajib dibersihkan setiap hari. Kalau burung datang dari luar negeri, dikarantina dulu satu minggu,” katanya.
Menariknya, Fajar tidak menggunakan vaksin kimia. Ia memilih antibiotik alami berupa campuran air 1,5 liter dengan dua siung bawang putih yang digeprek, sebelum kemudian dilanjutkan dengan vitamin B kompleks.

Pesan untuk Generasi Muda
Di sela kesibukannya sebagai pengusaha, bapak dua anak ini tak lupa membagikan pesan inspiratif, khususnya bagi atlet muda yang mungkin harus menghadapi kenyataan pahit berhenti dari dunia olahraga.
“Kalau satu pintu tertutup, masih banyak pintu lain. Kelebihan yang kita punya harus terus dikembangkan. Pelan-pelan, tetap semangat. Meski tidak di sepak bola, kita tetap bisa hidup dan sukses dari usaha lain,” pungkasnya.
Kisah Fajar menjadi bukti bahwa perubahan arah hidup bukanlah akhir, melainkan awal dari peluang baru—selama keberanian dan kerja keras tetap dijaga. [Mia]






