Header Menu Detik Style

‘Kirana Viramantra’, Cara Baru Mengenang Pahlawan Lewat Cahaya dan Seni Digital di Monumen Yogya Kembali

Caption : 'Kirana Viramantra yang digelar di area fasad Monjali.

Yogyakarta (Awalan.id) – Peringatan Hari Pahlawan tahun ini terasa berbeda di Monumen Yogya Kembali (Monjali). Fasad megah bangunan bersejarah itu berubah menjadi kanvas hidup penuh warna cahaya, suara, dan gerak tubuh dalam perayaan seni multimedia bertajuk ‘Kirana Viramantra’ yang digagas Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Pengembangan Budaya Digital.

Menggabungkan teater, musik, tari, dan video mapping, ‘Kirana Viramantra’ menghadirkan pengalaman budaya yang memadukan nilai tradisi dengan sentuhan teknologi modern. Acara ini menampilkan kolaborasi antara Mantradisi dan Sanggar Seni Sekar Kinanti melalui pementasan utama ‘Goro-Goro Diponegoro’, sebuah tafsir ulang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam format drama musikal berbasis Macapat.

Nama ‘Kirana Viramantra’ sendiri berasal dari bahasa Sanskerta: ‘Kirana’ berarti cahaya, sedangkan ‘Viramantra’ berarti pahlawan dan doa. Dua makna itu berpadu menjadi simbol melangitkan doa bagi para pahlawan melalui cahaya, menghadirkan peringatan Hari Pahlawan yang bukan sekadar seremonial, melainkan perenungan dan apresiasi budaya yang menyentuh.

Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan, Andi Syamsu Rijal mengatakan bahwa ‘Kirana Viramantra’ adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan melalui kekuatan kebudayaan. “Ini bukan sekadar tontonan, tetapi wujud doa yang diterangi cahaya. Monumen Jogja Kembali kami jadikan ruang refleksi untuk melihat hubungan manusia dengan sejarahnya,” tuturnya.

Andi menegaskan, kebudayaan tidak boleh berhenti di masa lalu, tetapi harus hidup dan menyapa generasi baru melalui kreativitas. Menurutnya, tugas anak bangsa saat ini bukan membuat masa lalu menjadi museum yang membeku, melainkan menjaganya agar tetap menyala dan relevan.

Sementara itu, Kepala Museum Monumen Yogya Kembali, Yudi Pranowo menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa museum bisa menjadi ruang publik yang hidup dan dekat dengan masyarakat. “Kirana Viramantra melibatkan seniman, komunitas kreatif, dan UMKM. Video mapping di Monjali menjadi sarana komunikasi budaya yang dekat dengan generasi muda,” jelasnya.

Perwakilan seniman Fayafla mengungkapkan rasa syukurnya bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. “Kami senang mendapat ruang untuk menafsir situs sejarah lewat seni cahaya. Dukungan seperti ini penting agar seni dan budaya terus maju,” ujarnya.

Sementara salah satu pengunjung, Anggie juga mengaku terkesan dengan pementasan tersebut. “Semuanya dikemas menarik dan penuh makna. Rasanya seperti belajar sejarah, tapi lewat cara yang indah dan tidak membosankan,” katanya.

Selain pertunjukan utama, ‘Kirana Viramantra’ juga menampilkan instalasi seni cahaya, video mapping show, dan karya dari sejumlah seniman seperti Fayafla, Paguyuban Geger Boyo, dan Roby Setiawan. Lokakarya video mapping yang telah digelar sebelumnya oleh Lepaskendali Labs pada 3–5 November 2025, melibatkan para seniman, mahasiswa, dan pelaku kreatif.

Melalui ‘Kirana Viramantra’, Kementerian Kebudayaan berupaya menyalakan kembali semangat kepahlawanan lewat kolaborasi antara seni, budaya, dan teknologi digital menjadikan sejarah tidak lagi hanya untuk dikenang, tetapi juga dirasakan dan dihidupkan kembali. [Red]

 

Tags :

Menarik Lainnya