Dari Kanvas ke Laboratorium, Kisah Raisha Riandra Taklukkan Dunia Seni dan Sains

SURABAYA (Awalan.id) – Berawal dari goresan kuas di atas kanvas, perjalanan Aphrodita Raisha Putri Riandra atau Raisha Riandra kini melangkah hingga ke dunia penelitian. Remaja berusia 14 tahun asal Surabaya ini membuktikan bahwa kreativitas seni dan ketekunan sains dapat berjalan beriringan hingga menghasilkan prestasi di tingkat internasional.

Nama Raisha Riandra bukanlah sosok baru di dunia seni. Sejak kecil, ia telah aktif mengikuti berbagai kegiatan seni lukis, mulai dari pameran hingga kompetisi melukis tingkat nasional maupun internasional. Berbagai penghargaan pun berhasil diraih, mengukuhkan dirinya sebagai seniman muda berbakat.

“Sejak kecil Raisha memang aktif di dunia seni. Dia sering ikut pameran, lomba melukis, dan beberapa kali dapat penghargaan di event internasional,” ujar Pembina Sanggar Lukis Daun, Arik Wartono, Minggu (6/9/2026).

Namun, rasa ingin tahu yang besar membuat Raisha tidak berhenti hanya pada dunia seni. Ia mulai menjelajahi bidang penelitian dan bergabung bersama Team Phoenix untuk mengembangkan sebuah inovasi di bidang life science.

Melalui penelitian berjudul PHOENIX : Pemanfaatan Paederia Foetida dan Syzygium Myrtifolium sebagai Salep Phyto-Herbal Antiinflamasi dan Antijamur untuk Eksim, Raisha bersama timnya mengangkat potensi bahan lokal berupa tanaman simbukan dan pucuk merah sebagai bahan dasar salep herbal.

Karya inovasi tersebut berhasil membawa nama Indonesia bersinar dalam ajang Indonesia International Invention Expo (IIE) 2026 di Semarang. Raisha bersama Team Phoenix berhasil meraih penghargaan tertinggi berupa Gold Medal pada kategori Life Science. Kompetisi tersebut berlangsung pada 24 Agustus hingga 3 September 2026 lalu.


Kompetisi tersebut menjadi bukti bahwa ide kreatif yang dikembangkan dengan ketekunan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Bagi Raisha, pengalaman di dunia seni justru menjadi bekal penting dalam menjalani proses penelitian. Ketelitian saat membuat karya seni membantunya melihat berbagai detail dalam proses ilmiah.

“Dari kanvas aku belajar melihat detail. Dari basket aku belajar kompak. Dari lab aku belajar bermanfaat untuk orang lain,” kata Raisha.

Selain seni dan penelitian, Raisha juga aktif menekuni olahraga basket. Baginya, seni mengajarkan kreativitas, basket membangun kemampuan kerja sama, sementara riset melatih kesabaran dan ketekunan. Perjalanan Raisha menjadi gambaran bahwa talenta muda tidak harus terpaku pada satu bidang saja.

Ia mampu memadukan seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan menjadi kekuatan untuk menciptakan inovasi. Dengan semangat belajar dan keberanian mencoba hal baru, Raisha Riandra membuktikan bahwa batas antara seni dan sains dapat dilewati. Dari kanvas menuju laboratorium, ia membawa pesan bahwa kreativitas dan ilmu pengetahuan dapat melahirkan prestasi yang mendunia.

Raisha merupakan siswi SMP Negeri 30 Surabaya. Dalam pengembangan karya ilmiahnya, putri pasangan IDG Indra KS dan Mariawati ini mendapat bimbingan dari Saldhyna Di Amora selaku Pembina Karya Ilmiah Remaja, Arik Wartono selaku Pembina Sanggar Lukis Daun, serta Bhiantoro Darmawan selaku Pembina Sabertooth Basketball. [Al/Red]

Biodata Raisha Riandra

* Nama lengkap: Aphrodita Raisha Putri Riandra
* Usia: 14 tahun
* Asal: Surabaya
* Sekolah: SMP Negeri 30 Surabaya
* Orang tua: IDG Indra KS dan Mariawati